Menggapai Sejati

Salam Nusantara…

Dalam catatan perjalanan kali ini yang cukup panjang, tulisan ini saya pisahkan per masing-masing hari semenjak dimulainya perjalanan. Yuk mari membaca dan menyimak.

Gunung Raung (3332 mdpl) adalah sebuah gunung yang besar dan unik, yang berbeda dari ciri-ciri gunung pada umumnya dan merupakan gunung berapi aktif tertinggi kedua di Pulau Jawa yang sampai saat ini status gunung tersebut pun masih waspada. Keunikan dari gunung Raung adalah kalderanya yang berbentuk elips dengan kedalaman sekitar 500 meter dan di dasar kaldera terdapat “kubah” yang sering menyemburkan asap bahkan api. Secara administratif gunung Raung berada diantara dua kabupaten, yaitu kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso.

Gunung Raung mempunyai 4 jalur pendakian dan masing-masing jalur mempunyai puncak (titik tertinggi) tersendiri. Jalur Sumber Wringin, Bondowoso merupakan jalur termudah untuk mencapai puncak gunung. Titik tertinggi pada jalur ini ada disisi timur kaldera gunung Raung. Sedangkan jalur Stail, Glenmore dan Kalibaru berada di wilayah Banyuwangi dan masing-masing jalur ini mempunyai titik tertinggi yang saling berbeda (hanya beda beberapa punggungan).

Seperti objek-objek wisata petualangan yang lainnya, masing-masing jalur pendakian gunung Raung pun mempunyai tantangan khusus yang membuat para petualang untuk berkunjung ke gunung tersebut. Jalur yang paling sulit untuk dilalui yaitu jalur Kalibaru. Seperti ketiga jalur lainnya, pendakian gunung Raung lewat jalur Kalibaru pun tidak akan menemukan sumber air selama pendakian. Sumber air terakhir pada jalur Kalibaru ini terdapat di Pos I, dua jam perjalanan dari desa terakhir. Dan menurut beberapa kalangan, pendakian gunung Raung lewat jalur Kalibaru merupakan jalur terekstrim diantara gunung-gunung yang ada di Pulau Jawa dan kedua paling ekstrim jalur pendakian gunung di Indonesia. Continue reading

Menggapai Sejati (Hari Ketujuh & delapan)

Kamis, 8 September 2011

Bangun tidur jam 05.30 wib dan langsung packing untuk melanjutkan perjalanan turun. Dengan kondisi stok air mineral yang tersisa hanya 300 ml, maka target perjalanan hari ini pun harus tiba di pos I sebelum langit gelap. Beruntung dalam perjalan kami menemukan tandon air di pertengahan jalur antara pos III dengan pos IV dan kami juga menimbun 1 liter air di pos III. Kami harus tiba di pos III dengan segera, karena dikhawatirkan air timbunan kami diambil oleh pendaki lain.

Sebelum tiba di pos III, kami bertemu dengan rombongan pendaki dari Kalideres, Jakarta. Hanya bertegur sama dengan mereka kami pun segera melanjutkan perjalanan menuju pos III. Ternyata air yang kami timbun sudah tiada, kemungkinan besar diambil oleh tim Kalideres. Putus asa pun mulai meninggahi kami, karena harapan air kami satu-satunya telah tiada.

Sambil beristirahat cukup lama di pos III, kami pun segera menyisir semak-semak di pos III dengan harapan masih ada stok air minum yang tertimbun. Karena kebiasaan para pendaki Gunung Raung yang melewati jalur Kalibaru pasti menimbun air mineral, walaupun hanya sebotol minum. Dan puji syukur kami menemukan 1 liter botol yang berisi air. Warna air sudah agak kehijauan yang sepertinya sudah lama tertimbun. Slayer pun kami gunakan untuk menyaring air tersebut agar sedikit bersih dan aman untuk diminum.

Setelah menenggak beberapa tetes air kami langsung bergegas untuk segera melanjutkan perjalanan. Air tersebut kami atur sedemikian rupa agar cukup sampai pos I. Dengan jalan agak sempoyongan karena kekurangan energi akhirnya kami tiba di pos I kira-kira pada pukul 16.00 wib. Continue reading