Withdraw / Penjualan Reksa Dana

Sudah dua kali saia menjual reksa dana. Yang pertama kali disebabkan oleh strategi investasi reksa dana yang mengharuskan menjual dan membeli reksa dana lainnya.

Sedangkan yang kedua adalah karena ada keperluan tak terduga yang membutuhkan dana segar.

Walaupun sudah dua kali menjual reksa dana tetapi selalu tidak ingat prosedur dan prosesnya sampai uang hasil prnjualan tersebut masuk ke Rekening Dana Investor. Untuk mengingatkan, berikut adalah proses dan prosedur penjualan reksa dana di Ipot Fund.

image

RDS Hold 5 Tahun?

Artikel dari media sebelah sengaja diletak disini, biar saiah mudah mbaca all about Reksa Dana-nya 🙂

Tidak bisa cuma di hitung kalo 5 tahun hold profit berapa gitu …
mulai invest rds nya kapan itu sangat penting …

Misal nih … kita invest 1x lumpsum di tahun 2007 ketika IHSG di puncak nya di bandingkan dengan invest 1x di 2008 ketika IHSG crash. Tapi rata2 kalo invest di hold 5 tahun untung nya cukup lumayan … perhatikan char IHSG

Se-apes2 nya mulai masuk rds tahun 2007 ketika IHSG sedang tinggi2 nya 2700 an sebelum crash 2008
dan IHSG sekarang sept 2015 IHSG di 4300 … hitung kasar profit (4300-2700)/2700 = 60% selama 7 tahun (nb : lagi sial2 nya )

Lain cerita kalo lagi pas hoki /nasib baik … start invest 2008 ketika IHSG crash di 1200 an .. dan redeem ketika IHSG 5000 an di tahun 2014
hitung kasar profit nya (5000 – 1200) /1200 = 316% selama 5 – 6 tahun (nb: lagi hoki2 nya )

Lihat chart IHSG pilih tgl brapa masuk dan kemudian lihat 5 tahun kedepan … kebanyakan ihsg naik …
inves ngawur aja 1x ga peduli lagi tinggi ato rendah ihsg 5 tahun kedepan kemungkinan besar profit … kalo rds kita kinerja nya kurang lebih mirip dengan ihsg … kalo hoki untung besar kalo apes untung dikit

Tapi jangan girang dulu … ini salah satunya adalah nilai rupiah kita yg tiap tahun melemah dan harga aset cenderung naik tiap tahun…

Memilih Reksadana – Investasi 100 Ribuan

Informasi di bawah ini adalah hasil ngopas dari mengelolakeuangan.com yak.

Tips memilih reksadana ini saya buat sesederhana mungkin dengan menggunakan logika dasar saja.

Pertama, ibarat anda sedang mengambil raport anak anda maka bagaimana caranya dalam hitungan detik anda tahu anak anda nilainya bagus atau tidak ? Ya lihat saja warnanya. Kalau warna hitam biasanya bagus sedangkan warna merah biasanya jelek.

Kedua, kalau anak anda mendapatkan nilai 8 dari skala 10 apakah bagus ? Belum tentu, kalau rata-rata kelasnya 9,2 sedangkan anak anda mendapat nilai 8 artinya jelek tetapi kalau anak anda mendapatkan nilai 5 dari skala 10 dengan rata-rata kelas 3,8 maka anak anda dapat dikategorikan bagus. Jadi kriteria bagus atau jelek harus ada pembandingnya. Dalam dunia reksadana khususnya reksadana saham dan campuran pembandingnya adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau dikenal juga dengan istilah Jakarta Composite Index (JCI).

Jadi tips memilih reksadana ini kita akan gunakan saja 2 buah indikator yaitu warna dan pembanding (relative to JCI). Yang paling ideal adalah yang warnanya hitam dan diatas JCI dan yang paling jelek itu yang warnanya merah dan dibawah JCI.

Baik, sekarang kita latihan dasar dulu. Mari kita lihat gambar yang ke-1 di bawah ini yang saya ambil dari ipotfund.

Tips-Memilih-Reksadana-11

Di dalam tabel di atas ada beberapa singkatan yaitu :

  • NAV adalah Net Asset Value, atau nilai harga unit
  • AUM adalah Assets Under Management atau nilai aset yang dikelola
  • JCI adalah Jakarta Composite Index yang dijadikan sebagai pembanding

Continue reading

Beberapa Istilah Pada Reksa Dana

1. 1Day, 3D, 1M, 3Month, 6M, Year To Date, 1Year, 3Y, 5Y adalah suatu performance reksadana dalam suatu periode dengan menggunakan persentase artinya misal dikolom 5Y tertera 50% artinya dalam periode 5 tahun history performance nya adalah 50%.

2. Morning star adalah lembaga rating International yang menjadi barometer utama seluruh Reksa Dana di Dunia. Bisa dijadikan acuan tetapi yang paling utama dalam memilih reksadana dengan beberapa indikator seperti NAV performance, sharpe ratio, drawdown, hi lo performance, AUM (assets under management) atau dana kelolaan reksadana.

3. Hi lo performance semakin besar nilainya semakin bagus.

4. Tentunya dengan menggunakan indikator-indikator seperti yg sudah dituliskan pada poin 2.
Berikut informasi mengenai Sharpe, Drawdown, AUM dll :
– %Performance (return) yang paling besar pada tahun sebelumnya merupakan pilihan yang bagus untuk memilih ReksaDana, tapi tetap melihat indikator lainnya.
Jadi yang positifnya besar itu dinilai performancenya bagus.
– Hi-Lo performance, untuk menentukan grafik NAV (Net Asset Value) dalam suatu periode (3M,6M,9M,1Y,2Y,3Y) dimana NAV penutupan terakhir berada berapa persen dari titik terendah suatu reksa dana pada periode tertentu.
Hi-lo merangkumkan grafik NAV suatu reksa dana yang akan lebih berarti apabila digabung dengan performa NAV suatu periode.
– %Chg NAV : menggambarkan perubahan atau pergerakan NAV dari NAV terakhir dibandingkan dengan suatu periode (bisa 1 bulan, 3 bulan, 1 tahun atau dapat dipilih sendiri).
– %Sharpe : Menunjukan suatu perbandingan antara return terhadap resiko. Jadi nilai Sharpe Ratio semakin besar adalah semakin baik. Kalau sharpe Ratio minus adalah dikarenakan returnnya minus.
Semakin besar nilai sharpe ratio, artinya makin baik, karena rata-rata pergerakan imbal hasilnya lebih besar dari risk free rate dan standar deviasi relatif rendah.
Rumusnya adalah Imbal hasil portfolio dikurangi Risk Free Rate dibagi dengan standart deviasi. Atau Return dibagi resiko
– %drawdown : menggambarkan pergerakan pada saat NAV turun ke bawah yang terparah dalam periode yang ditentukan.
Apabila nilainya 0,20 berarti tingkat penurunannya pada periode tertentu tersebut 20% dari nilai investasi awal.