Cukup Sudah: Transparansi Anggaran sebagai Jawaban

Dear Pemerintah, implementasikan e-Budgeting dan e- e- lainnya di pusat maupun daerah, pliss…

OpenUrbanity

1 minggu terakhir ini, terjadi ‘perang’ antara Gubernur DKI Jakarta dan DPRD DKI terkait dengan APBD 2015.
Gubernur menuduh DPRD memasukkan anggaran siluman, sementara DPRD akan mejalankan hal angket.

Hal tersebut adalah ‘perang’ yang tidak perlu, yang seharusnya bisa dihindari jika salah satu dari kedua pihak sudah melibatkan publik di awal dan mewujudkan transparansi anggaran. Salah satu, bisa itu DKI bisa juga DPRD. Yang sekarang terjadi adalah ‘katanya Ahok’ (dilengkapi dengan foto namun tanpa dilengkapi konteks) berlawanan dengan ‘katanya DPRD’ dengan argumen2 mereka (yang seringnya gak masuk akal dan gak menjawab pertanyaan Ahok) termasuk diantaranya penyelidikan mengapa kemendagri kerap kembalikan APBD.

Jelas yang terbawa dalam perang ini adalah publik, warga. Pagi ini saya menerima DM, broadcast message, meminta saya menandatangani petisi change.org yang meminta KPK, MA, MK, Kejaksaan dll mencabut mandat DPRD (judulnya begitu sih, tapi tujuannya ke KPK? Gak komentar deh). Lalu walaupun kurang relevan, ada aksi di CFD…

View original post 876 more words

Advertisements

Uang Rokok 10 Tahun Dibelikan Reksa Dana, Bisa Tumbuh Jadi Rp170,8 Juta

MerokokBuat sebagian orang, rokok sudah menjadi candu. Tak bisa tidak, harus dihisap secara rutin, terus-menerus. Mereka yang taraf kecanduannya belum kelewat parah, bisa menghabiskan sebungkus rokok setiap harinya. Artinya, jika kita asumsikan ini adalah harga jual rata-rata sebungkus rokok, kalangan ini merogoh kocek paling tidak Rp12.000 setiap hari atau sekitar Rp360 ribu sebulan. Jika dihitung selama 10 tahun, maka uang yang dibakar perokok mencapai Rp43,2 juta.

Pertanyaannya — ini mudah-mudahan dapat membuat Anda berhenti merokok — apa yang terjadi jika uang tersebut Anda alihkan untuk berinvestasi di reksa dana?

Menggunakan Simulator Reksa Dana Bareksa, ternyata hasilnya fantastis!

Jika sejak 10 tahun lalu uang rokok itu Anda belikan suatu reksa dana berbasis saham (nama produk tidak disebutkan untuk menghindari promosi), maka alih-alih terbakar habis dan meracuni paru-paru Anda, total uang Anda yang semula Rp43,2 juta itu sekarang sudah menggelembung menjadi Rp170,8 juta. Dengan kata lain, return yang Anda peroleh hampir mencapai 300 persen!

Di Simulator itu, coba Anda pilih periode 10 tahun ke belakang, misalnya pada 18 Februari 2005 hingga 17 Februari 2015. Kemudian, masukkan nilai investasi awal sebesar Rp360 ribu dan nilai tambahan investasi setiap bulan sebesar Rp360 ribu yang akan Anda tanamkan setiap tanggal 18. Maka, hasilnya akan tampak seperti grafik di bawah ini.

Grafik: Hasil Simulasi Investasi Reksa Dana dalam 10 Tahun

Simulasi Investasi Reksadana

 

 

 

 

 

Dalam 10 tahun, uang rokok Anda yang Rp43,2 juta itu, alih-alih terbakar habis, malah menghasilkan keuntungan (return) sebesar Rp127,6 juta atau tumbuh 295,3 persen. Totalnya, uang Anda menjadi Rp170,8 juta.

Jadi, silakan Anda pilih: terus merokok atau mulai berinvestasi di reksa dana.

Jika Anda tertarik, silakan daftar menjadi nasabah marketplace reksa dana online terintegrasi Bareksa – Buana Capital dengan mengklik tautan ini.

Jika Anda ingin belajar dan mendalami investasi reksa dana, termasuk bagaimana menggunakan berbagai perangkat online untuk mengukur, membandingkan, dan memonitor reksa dana dengan returnterbaik, silakan mengikuti workshop Bareksa Fund Academy online maupun offline. Untuk mendaftar silakan klik taufan ini. GRATIS. (kd)

*disadur dari bareksa.com*

 

 

5 Mitos Di Industri Software Development Indonesia

Sejarah mencatat kalau penggunaan komputer di Indonesia dimulai di sekitar tahun 1970-an dan cabang ilmu komputer atau teknik informatika mulai berkembang di Indonesia sekitar akhir tahun 1970-an. Bila memang benar cabang ilmu komputer masuk di Indonesia di tahun tersebut, berarti hampir 40 tahun industri software development di Indonesia tidak mengalami banyak kemajuan yang berarti. Kenapa demikian? Karena selama satu dekade belakangan, tingkat turnover di industri software development di Indonesia masih tergolong tinggi dibandingkan di industri lainnya,delivery date yang tidak sesuai perencanaan dan fitur-fitur yang tidak sesuai permintaan kostumer.

Namun walaupun dengan semua permasalahan pelik tersebut, masih banyak saja praktisi IT di Indonesia yang melakukan hal yang sama seolah-olah kegagalan dalam 40 tahun belakangan belum menjadi cukup bukti kuat untuk mereka merubah cara berpikir dan cara berperilaku dalam software development. Seharusnya orang yang telah gagal berkali-kali langsung belajar dari kegagalan dan tidak melakukan hal yang telah menyebabkan ia gagal untuk kedua kalinya, namun hal tersebut seolah-olah tidak berlaku di Indonesia karena banyak orang Indonesia yang menggunakan kaca mata kuda yang tidak memperhatikan perkembangan dan perubahan di belahan dunia lain.

A problem can’t be solved from the same state of mind that created it. — Einstein

Pada hari ini, pada saat anda sedang membaca artikel ini, di Indonesia ada proyek software development yang sebentar lagi akan gagal dan pada saat yang bersamaan ada beberapa software developer yang baru saja bekerja di perusahaan selama kurang dari satu bulan berniat untuk mengundurkan diri dari perusahaan dimana ia bekerja. Banyak manajer dan petinggi perusahaan yang masih memiliki pola pikir dari teori manajemen dari tahun 1900-an dalam mengelola proyek software development di abad 21. Oleh karena itu banyak dari manajer IT ini yang perlu diganti karena mereka belum menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman. Apakah ini hanya merupakan kesalahan mereka saja? Tidak juga, perilaku mereka yang tradisional ini juga banyak dipengaruhi oleh atasan mereka yang berlagak tidak mau tahu dan sebuah departemen yang sering disebut Human Resource Department (HRD) yang masih menggunakan teori-teori jaman kuda yang sudah banyak disangkal oleh ilmuwan dan psikolog. Saya menyebut orang-orang yang duduk di Manajemen dan HRD sebagai partners in crime to demotivate people in the workplace. Saya menyebut teori jaman kuda yang mereka anut tersebut sebagai mitos.

mitos (n). sebuah pemikiran mengenai pengelolaan software development berdasarkan teori dari jaman kuda yang tidak manusiawi dan sudah tidak relevan lagi di abad 21. Continue reading