Seruntulan ke Dabo di Pulau Singkep, Lingga, Kepulauan Riau [Part 3]


Alkisah di hari Sabtu tanggal 10 Agustus tahun 2013

Semangat pagi Dabo. Pagi ini kami disambut dengan hujan. Bangun tidur jam 6 pagi ada yang langsung mandi dan ada pula yang masih bergumul dengan kasur. Target pagi ini adalah mandi di Air Panas kaki Gunung Lanjut.

Air hujan dari langit Bukit Kabung sudah habis dan waktu pun menunjukan jam 7.30. Dengan segera kami meluncur dari basecamp menggunakan sepeda motor untuk menuju pemandian air panas yang terletak di kaki Gunung Lanjut.

Perjalanan kami ternyata melewati salah satu pembangkit listrik tenaga diesel yang menerangkan sebagian listrik di Pulau Singkep. Setelah melewati PLTD tersebut jalan beraspal pun menghilang. Nampaknya pengaspalan jalan belum selesai karena disana masih ditemui tumpukan batu kerikil. Selama perjalanan dapat dilihat di kanan-kiri jalan kolong yang tentunya sudah digenangi oleh air.

Kolong

Kolong

Kondisi jalan pun semakin memburuk. Tanah merah yang baru saja dibasuhi air hujan membuat kondisi jalan menjadi licin. Disini harus pandai memilah-milah jalan untuk kenyamanan berkendara. Setelah melewati beberapa jembatan akhirnya kami pun tiba di pemandian air panas. Keluarin uang dari dompet untuk membayar tiket masuk. Untuk dewasa ditukar dengan mahar sebesar Rp 3.000 per orang.

Pemandian Air Panas Gunung Lanjut

Pemandian Air Panas Gunung Lanjut

Menurut cerita Tiara, tempat wisata pemandian air panas ini sudah ditangani oleh pemerintah daerah. Ada beberapa pondok / panggung yang digunakan sebagai tempat duduk/tas/makanan pengunjung. Kolam renang/mandi terbagi menjadi 3 bagian yang masing-masing kolamnya mempunyai tingkat suhu kepanasan yang berbeda. Satu (1) kolam yang diperuntukan khusus untuk anak-anak dan 4 kamar mandi untuk membilas badan.

Kolam Air Panas

Kolam Air Panas

Papan digunakan sebagai alas kolam pemandian agar pengunjung tidak langsung menyentuh/menginjak belerang atau sumur sumber air panas tersebut. Sumber air panas ini berasal dari belerang Gunung Lanjut. Oh iya, kami belum tau berapa ketinggian Gunung Lanjut.

Di tempat ini sangat cocok untuk menyantaikan diri karena lokasinya yang ada di bawah kaki Gunung Lanjut yang sudah pastinya mempunya hawa yang dingin tetapi kita bisa berendam di kolam yang berisi air hangat/panas.

Cukup 30 menit kami berendam di kolam air panas, jadi tepat pada pukul 9.20 kami kembali bergerak menuju target selanjutnya yaitu air terjun Batu Ampar. Atas petunjuk Ribud maka kami pun melewati jalur pintas yang melewati hutan dan kebun. Jalan yang kami lalui itu merupakan jalan yang dulu digunakan untuk mengangkut timah hasil penambangan.

Selama perjalanan menuju Batu Ampar banyak ditemukan kolong. Ada yang air warnanya hijau sampe ke yang berwarna agak hitam. Pemandangan dijalur yang kami lalui pun tidak mengecewakan. Kanan kiri terdapat hutan yang berbukit dan dikejauhan sana juga terlihat jelas Gunung Lanjut.

Gunung Lanjut

Gunung Lanjut

Di dalam hutan sana juga banyak ditemukan pondok/rumah yang digunakan sebagai tempat istirahat masyrakat yang berkebun. Pohon karet sangat banyak ditemukan disana jadi sebagian masyarakat pun berprofesi sebagai petani karet.

Setelah ditungak-tengok ternyata ban belakang motornya Ribut bocor. Ini masih ditengah hutan loh. Akhirnya Ribut pun dibiarkan bermotor sendirian tanpa boncenger. Jadi motor yang dikendarai oleh Adib pun akhirnya tumpuk tiga (macam nesting).

Rumah-rumah penduduk pun mulai nampak yang berarti juga jalan raya (aspal) semakin dekat. Tukang tambal ban pun pasti akan mudah dijumpai. Kami biarkan Ribut melipir ke bengkel untuk menambal ban yang bocor dan kami menungu sambil beristirahat sejenak tepat di simpang masuk wisata Batu Ampar.

Simpang Batu Ampar

Simpang Batu Ampar

Ribut sudah bergabung lagi dengan tim dan waktu menunjukan pukul 11.11 maka tidak buang waktu untuk kembali bergerak menuju air terjun Batu Ampar. Ternyata hanya butuh waktu 8 menit untuk tiba di Air Terjun Batu Ampar. 

Begitu sampai di air terjun Batu Ampar kami langsung merapat ke kantin untuk mengisi lambung. Sambil menunggu pesanan makanan (mie rebus/goring), clangak-clinguk ternyata air terjunnya hanya setinggi (mungkin) 3 meter. Itu pun tidak vertical 90 derajat. Di bawahnya air terjuan terdapat 2 kolam yang digunakan untuk berenang.

Air Terjun Batu Ampar

Air Terjun Batu Ampar

Selesai mengisi lambung kami langsung eksplor wisata Batu Ampar. Kami penasaran dengan sungai yang merupakan sumber air terjun tersebut. Ternyata diatas juga banyak yang mandi atau sekedar main air bahkan gak jarang juga muda-mudi yang naracap disana.

Pukul 13.17 wib kami memacu sepeda motor lagi dengan tujuan Pagoda. Di perjalan kami melewati tugu Batu Runcing yang tegak berdiri di pinggir jalan. Kami juga melewati kantor polisi resort Lingga. Sangat tenang situasi di kantor polisi tersebut. Tepat di depan kantor polisi tersebut terlihat sungai atau mungkin kolong yang sudah tergenang dengan air.

Polres Lingga

Polres Lingga

Setelah melewati Rumah Sakit Umum Daerah tibalah kami di Pagoda pada pukul 13.42 wib. Belum ada pengunjung yang lain kecuali gerombolan kami dan pekerja yang sedang merenovasi beberapa bagian Pagoda. Disana juga terdapat kantor pusat informasi wisata Dabo tetapi belum berpenghuni. Mungkin pegawainya masih libur lebaran.

Pusat Informasi Pariwisata

Pusat Informasi Pariwisata

Tidak lebih 10 menit kami berada di Pagoda, kami langsung meluncur ke base camp. Matahari terik tapi kami tak gentar untuk sedikit berdokumentasi di sekitaran alun-alun yang persis ada di depan Masjid Azulfa. Akhirnya kami bisa mulai beristirahat di base camp mulai jam 14.09 sampe jam 16.45 wib.

Target selanjutnya adalah eksplor pelabuhan Dabo. Konon katanya lagi, pelabuhan Dabo merupakan pelabuhan terpanjang yang menjorok ke luar (laut) se Asia Tenggara. Hmmmmm, kira-kira dimana informasi itu yang bisa kami tengok.

Barisan kapal-kapal kayu sedang bersandar di pelabuhan Dabo sore itu. Terlihat jelas disini aktivitas awak kapal. Sepertinya nelayan juga bersandar di pelabuhan Dabo karena banyak kapal-kapal pencari ikan yang sedang bersandar dan ada juga yang sedang perbaikan kecil.  Gambar kapal nelayan

Untuk arus penumpang manusia, pelabuhan Dabo juga melayani kapal/speed boat rute Dabo – Daik dan Dabo – Jambi. Untuk perjalanan Dabo – Daik dan sebaliknya hanya dilayani oleh kapal kayu sedangkan untuk perjalanan Dabo – Jambi dan sebaliknya penumpang bisa memilih naik kapal kayu atau speed boat/ferry.

Ikaln Dabo - Jambi

Ikaln Dabo – Jambi

Tentunya ada perbedaan antara kapal kayu dengan speed boat/ferry baik dari segi waktu yang ditempuh dan fasilitas serta kenyamanan penumpang. Kapal kayu akan menghantarkan penumpang dengan tujuan Jambi sampai ke pusat kota Jambi. Yang artinya kapal kayu akan mengarungi lautan dan untuk menuju ke pusat kota kapal kayu akan menyusuri sungai Batanghari. Dan lagi-lagi konon kapal kayu itu muatan utamanya itu karet, penumpang manusia itu hanya untuk uang tambahan aja.

Kapal Dabo - Jambi

Kapal Dabo – Jambi

Lanjut terus kami berjalan sambil disuguhi gelombang yang kuat menghantam kontruksi pelabuhan. Sore hari pelabuhan Dabo ini lebih ramai dengan masyarakat sekitar untuk sekedar ngobrol-ngobrol, berfoto ria dan ada juga yang hanya sekerdar lewat dan begitu sampe ujung pelabuhan diputarbalikan lah itu arah stang motor ataupun sepeda.

Bersantai di Pelabuhan Dabo

Bersantai di Pelabuhan Dabo

Dari pelabuhan Dabo ternyata terlihat jelas bukit/gunung yang ada di daratan Pulau Singkep tapi kami belum tahu apa nama-nama bukit/gunung itu. Matahari pun perlahan mulai tengelam sehingga mata disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Gambar senja

Kembali naik ke sepeda motor masing-masing dan kami pun lanjut untuk mencicipi mie ayam / bakso lapangan yang konon (lagi) uenak. Angka di jam tangan 18.38 dan hanya butuh 9 menit untuk mencapai lokasi babang-babang tukang bakso.

Yang anehnya disini, bakso yang dimaksud di mie ayam bakso itu tidak berbentuk bulat ataupun segitiga bakso pada umumnya. Bakso disini sepertinya berbentuk panjang seperti sosis yang kemudian dipotong kecil-kecil.

Mi Ayam Bakso

Mi Ayam Bakso

Lepas makan bakso kami lanjut untuk mencari informasi penginapan yang ada di pusat kota Dabo. Ada hotel Amanda (kalau gak salah) yang bangunannya (mungkin) berlantai 4. Kalau dilihat dari bentuk bangunannya nampaknya ini hotel lumayan juga harganya. Persis di depan hotel Amanda juga terdapat penginapan tapi kami lupa namanya. Untuk memastikan informasi kami langsung singgah di Hotel Gapura Singkep (0776 21136), tanya tarif ke penjaga hotel disodorilah kami kertas yang sudah dilaminating yang berisi daftar tarif hotel sesuai dengan fasilitas. Dimulai dari Rp 80.000 per malam sampai Rp 240.000 per malam. Tidak jauh dari hotel Gapura Singkep juga terdapat wisma penginapan. Di wisma tersebut (kami lupa namanya) tarif penginapan paling murah seharga Rp 110.000,-.

Sebelum kembali ke basecamp kami sempat berkunjung ke kediaman kawan dari salah satu rombongan kami. Rumahnya bagus dan rapih, dinding terbuat dari semen dan papan. Lagi-lagi narayeu dan kawan-kawannya dihidangkan berikut gelasnya. Waktu semakin larut, kondisi fisik juga semakin menurun karena dihajar dari pagi, jadi tanpa basa-basi langsung lah kami meluncur kembali ke basecamp.

Tiba di basecamp langsung packing sambil ngopi. Good night Dabo…..
Oh iya ada yang ketinggalan deng, kami belum beli tiket penyebrangan Dabo – Batam. Uang kembali kami keluarkan masing-masing Rp 200.000 dan sang empunya basecamp lah yang pergi untuk membeli tiket ke penjual tiket. Disini penjual tiketnya (konon lagi nih) tidak berbentuk seperti agen travel perjalanan, tapi penjualnya ya tinggal di rumah masing-masing. Dan masyarakat setempat pun sudah tahu siapa-siapa saja yang menjadi penjual tiket penyebrangan Dabo – Batam maupun Dabo – Tanjung Pinang.

Advertisements

2 thoughts on “Seruntulan ke Dabo di Pulau Singkep, Lingga, Kepulauan Riau [Part 3]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s