Seruntulan ke Dabo di Pulau Singkep, Lingga, Kepulauan Riau [Part 2]


Alkisah di hari Jumat tanggal 9 Agustus tahun 2013

Rombongan terpecah dari beberapa wilayah, dari Sei Panas, Batam Center, Tiban dan Sagulung. Meeting point di Batu Aji. Nah pada H-1 kami sepakat janjian untuk jam 7 pagi sudah sampai di Batu Aji. Karena masih musim mudik dikhawatirkan kehabisan tiket kapal dari Telaga Punggur ke Jagoh, Dabo.

Akhirnya gerombolan dari Sagulung lah yang betul-betul ontime tiba di Batu Aji. Tapi karena kecewa akhirnya blok Sagulung pun putar kompas lagi ke Sagulung. Sekalian lewat saia pun akhirnya jemput juga blok Sagulung. Langsung berangkat ke meeting point tapi blok Tiban belum juga muncul, apalagi blok Sei Panas

Memasuki jam 8 pagi blok Tiban dan Sei Panas pun menampakan dirinya di meeting point. Jam 8.25 kami take off ke pelabuhan Tanjung Punggur dengan menumpangi roda empat sang Boss. Jalanan masih relatif sepi tapi tidak berlaku di sekitaran pelabuhan Telaga Punggur. Kami pun tidak kebagian memarkirkan roda empat sang Boss di dalam area pelabuhan. Dapatlah lapak untuk memarkirkan itu roda empat tidak jauh dari pelabuhan Telaga Punggur.

Tiket Ferry Tg Punggur - Dabo

Tiket Ferry Tg Punggur – Dabo

Babang Basten pun kami utus untuk membeli tiket kapal. Tiket sudah dipegang, namun karena masih jam 9.05 maka kami putuskan untuk ngupi dan ngeteh di kedai sekalian sarapan. Jam 9.45 kami mulai memasuki dan menaiki kapal KM Marina Baru yang sudah siap menghantarkan kami ke Dabo, Pulau Singkep.

Tepat jam 10.15 KM Marina Baru mulai melepaskan sandaran dari pelabuhan Tanjung Punggur. Tidak begitu banyak penumpang yang ada di dalam kapal, tidak seperti kapal tujuan Tanjung Pinang yang masih ‘bejubel’. Clangak-clinguk menikmati pemandangan lewat jendela sambil cek posisi di GPS dan ternyata kapal yang kami tumpangi itu melewati jembatan 3 Barelang. Buru-buru lah kami ngacir ke atap kapal untuk benar-benar menikmati perjalanan. Tak lupa kami juga ambil gambar sebagai dokumentasi bahwa kami pernah menaiki kapal yang melewati jembatan 3 Barelang tersebut.

Under Jembatan 4 Barelang

Under Jembatan 4 Barelang

Tidak jauh dari jembatan 3 kami melihat tebing disebelah kiri kapal yang sangat mungkin digunakan untuk latihan panjat tebing. Kalo tidak melenceng tebing tersebut berada di latitude -0.87024, longitude 104.09218

Tebing Panjat

Tebing Panjat

Masih menikmati perjalanan sambil disuguhi lukisan “nyata” nya sang Khalik. Angka di jam tangan sudah menujukan 12.40 wib. Tepat disebelah kiri kami melihat hamparan pasir putih yang sangat panjang dan mungkin juga indah untuk dinikmati. Kemungkinan posisi pasir putih itu ada di latitude -0.19123, longitude 104.336716 dan menurut database navitel itu pulau bernama Pulau Blandoh Besar. Dan kalau dilihat dari penampakan di google nampaknya itu pulau tak berpenghuni manusia.

Pulau Blandoh Besar

Pulau Blandoh Besar

Disebelah kanan kapal nampak rumah-rumah penduduk Pulau Cempa. Menurut salah satu penumpang masyarakat pulau Cempa salah satu penghasil ikan teri yang dikirim ke Tanjung Pinang. Ternyata disana juga terdapat sekolah SD sampai SMP + tower BTS telekomunikasi.

Pulau Cempa

Pulau Cempa

Perut mulai mengeluarkan suara yang khas, tapi perjalan belum nampaknya masih jauh. Wait and see mode on terlihat dari kejauhan disebelah kiri kapal adalah Gunung Daik yang berada di Pulau Lingga. Yang artinya pelabuhan Jagoh jaraknya sudah semakin dekat. Laju kapal pun dikurangi dan secara perlahan kapal mulai bersandar di pelabuhan Jagoh, Dabo Singkep. Angka di jam tangan menunjukan angka 14.02 wib dan dengan kecepatan rata-rata kapal 51 km per jam.

Begitu keluar pelabuhan Jagoh kesan pertamanya adalah suasana pelabuhan yang tidak seperti di Batam. Tempat parkir kendaraan digabung menjadi tempat mobil yang dijadikan angkot menunggu penumpang. Tanya-tanya ke sopir mobil yang disewakan dapat informasi kalau untuk tujuan Bukit Kabung harus ditukar dengan mahar Rp 40.000 per orang. Tapi kami nego lagi dan dapatlah harga Rp 220.000 untuk ber 6 orang.

Suasana Pelabuhan Jagoh

Suasana Pelabuhan Jagoh

Cukup 20 menit untuk tawar menawar harga. Sambil menikmati perjalanan dari Pelabuhan Jagoh ke base camp yang berada di Bukit Kabung kami pun berbincang-bincang dengan sopir dan awaknya. Menurut beliau disini tuh tidak ada angkot yang berkeliaran seperti di kota-kota pada umumnya. Disini hanya ada ojeg dan mobil seperti yang kami tumpangi.

Akhirnya jam 14.56 mobil yang kami tumpangi sudah tiba di tujuan. Welcome to base camp. Salaman dan lebaran dengan yang empunya basecamp. Taro daypack di kamar dan tentunya langsung dipersilahkan untuk mencicipi masakan empunya basecamp. Istirahat sambil berbincang-bincang dengan penghuni basecamp sambil menggali informasi tentang Dabo.

Jam 17.20 kami meluncur ke Batu Berdaun menggunakan sepeda motor. Melewati pinggiran bandara Dabo yang hanya bisa didarati pesawat jenis foker. Kemudian melewati pantai Sergang Laut, disini kami hanya mengambil beberapa kali poto. Lanjut ke Batu Berdaun. Selama perjalanan hampir disetiap perbatasan kampung terdapat sejenis gapura yang berbentuk simbol-simbol keislaman. Dan ternyata itu merupakan salah budaya masyarakat setempat dalam rangka menyambut dan memeriahkan malam lailatulqodar.

Gapura

Gapura

Makin ke arah bibir pantai rumah panggung pun semakin sering terlihat. Tepat jam 17.49 kami tiba di Batu Berdaun. Ooooo, ternyata ini toh yang namanya Batu Berdaun. Karena waktu sudah hampir gelap maka disana pun tidak banyak orang yang menikmati atau sekedar berpoto ria di area Batu Berdaun. Tak kami sia-siakan waktu yang ada. Ngobrol, berjalan di tepi pantai dan berpoto di Batu Berdaun kami lakukan.

Oh iya, disana kami juga bertemu dengan kawan dari Tanjung Pinang. Iya, sebut saja Reza. Ternyata beliau memang penduduk asli Dabo yang sedang merantau kuliah di Tanjung Pinang. Beliau naik kapal roro dari pelabuhan Kijang ke pelabuhan Jagoh karena membawa sepeda motor yang selama ini beliau gunakan sehari-hari di Tanjung Pinang sana.

Batu Berdaun

Batu Berdaun

Ternyata gelombang laut pada saat ini lumayan guede juga. Jadi macam ombak-ombak yang ada di pantai selatan pulau Jawa. Langit sudah gelap, angka di jam tangan 18.50 maka kami putuskan untuk kembali ke basecamp.

Ternyata kami tidak dibawa langsung ke basecamp melainkan diajak mampir ke kediaman Okta yang tidak jauh dari Masjid Azzulfa. Ya kalau di Batam bisa dibilang masjid raya dah. Sama seperti di basecamp, begitu sampe ke kediaman Okta sang empunya rumah juga sibuk mengeluarkan narayae dan teman-teman kue lainnya.

Cukup kenyang sudah, kami pamitan dengan sang Ibu dan mengucapkan terimakasih atas hidangannya. Kami digiring lagi ke kediaman Tiara. Nah disini kami disajikan ketupat beserta sayur, daging ayam, rendang dan sambal goreng udangnya. Tentu kami tidak mungkin dan tidak bisa menolak tawaran tersebut. Hmmmmm, perlahan ikat pinggang pun mulai dikendurkan.

Makan Ketupat

Makan Ketupat

Melanjutkan visi kembali ke basecamp tapi kami kembali putar haluan untuk berkunjung ke pak Dosen yang berjumpa di pelabuhan Telaga Punggur itu. Kami banyak mendapat informasi disana. Mulai dari tempat-tempat yang wajib dikunjungi di Dabo sampe ke suku laut dan cerita mistis yang ada di Daik.

Akhirnya kami tiba kembali di basecamp dengan selamat (padahal perut sedikit membuncit) pada jam 21.15 wib. Waktunya isitirahat….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s