Perjalanan “Dinas” Profesional Perdana


Microsoft SharePoint 2010 Administration Training

Mendapatkan kesempatan training professional itu sangat menyenangkan, terlebih lagi kesempatan tersebut adalah training pertama kali yang diselenggarakan secara professional.  Microsoft SharePoint 2010 Administration, yup itu adalah materi training perdana saya dengan penyelenggara Native Enterprise yang berlokasi di Jalan Setrasari Kulon V, Bandung (rekomendasi dari kang Suherman).

Padahal harapan saya bisa mendapatkan provider training di Jakarta agar tiap hari saya bisa pulang ke rumah. Namun, untuk jadual bulan Maret rekomendasi provider dari kang Suherman itu kosong. Adanya bulan April. Dengan berat hati saya memilih training di Bandung. Tapi tidak apa lah, hitung-hitung untuk menambah teman di Bandung. Terakhir saya bermalam di Bandung itu tahun 2004, dan itu pun hanya satu malam di Bandung.

Perjalanan Batam – Bandung kali ini akan melewati Jakarta, karena ingin pulang sejenak ke tempat tinggal orang tua di bilangan Tanjung Priok, Jakarta Utara dan ke sekretariat KMPA Patuha di kampus A Uhamka untuk berkangen ria dengan saudara-saudari saya di Patuha.

Hari Jum’at tanggal 9 bulan Maret tahun 2013 pukul 14.30 WIB berangkat dari kantor (Batam Center) menuju bandara Hang Nadim, Batam. Bung Slamet dengan van hitamnya yg saat itu mengantarkan saya. Lion Air adalah maskapai penerbangan yang akan ‘menerbangkan’ saya dari Batam ke Jakarta. Setibanya di bandara Hang Nadim saya langsung check in dan membelikan tembako titipannya uncle Muh untuk kawan lamanya di Jakarta serta cake pisang maupun bika untuk sang bunda & adik di rumah.

Take off pukul 15.20 tertulis pada tiket pesawat tersebut sehingga pukul 15.00 WIB saya sudah masuk ke dalam pesawat. Kru pesawat seperti biasa mengarahkan, menghitung dan mendemokan penggunaan alat-alat darurat. Setelah selesai penghitungan penumpang, tapi pesawat tidak kunjung diberangkatkan juga. Ada yang aneh dalam persiapan penerbangan tersebut, kru yang bertugas untuk menghitung jumlah penumpang yang telah duduk di dalam pesawat sampai menghitung 5 kali untuk menjawab keraguan hasil hitungan sebelumnya. Apalagi sampai ada dua orang kru yang menghitung jumlah penumpang. Hmmmmmmm, ada apakah gerangan?

Kru pesawat Lion Air pada penerbangan tersebut tidak ada yang memberikan informasi kepada penumpang perihal kenapa pesawat tersebut tidak kunjung diterbangkan. Padahal sudah melewati jadual keberangkatan yang tertera pada tiket penumpang. Dan ternyata, pesawat tersebut sedang menunggu penumpang transit-an dari penerbangan Tanjung Pinang – Batam. Sungguh sangat disayangkan transportasi umum seperti Lion Air masih mau/bisa menunggu penumpangnya yang ‘molor’ dari waktu yang sudah ditentukan.

Belum tiba di Jakarta sudah dapat ujian kesabaran, bagaimana nanti ketika sudah tiba di Jakarta yang terkanal dengan kemacetannya itu? Hmmmmm….

Pukul 15.24 WIB saya sudah menunggu bus Damri arah Tanjung Priok di shelter terminal 1 B bandara Soekarno Hatta. Ditemani sinar matahari yang sedang tenggelam lumayan tidak membuat bosan untuk menunggu bus Damri. Sekitaran pukul 18.30 wib bus yang ditunggu akhirnya muncul juga. Seperti biasa titik kemacetan sudah dimulai dari lingkungan bandara Soekarno Hatta, titik kemacetan selanjutnya saya yakini sudah menanti di menjelang pintuk keluar tol Plumpang.

Proyek Pembangunan JalanTol Pelabuhan Tg PriokSesuai prediksi saya begitu turun dari bus Damri di pertigaan Mambo, berisan truk trailer ditambah kendaraan jenis lainnya sedang menghiasai jalan Jampea. Yang artinya muaceeeet pol dan sangat membuang waktu jika naik Metro Mini atau pun KWK untuk melanjutkan perjalan ke rumah. Ojeg pun jadi alat transportasi yang sangat efektif di tengah kondisi kepadatan jalur tersebut. O iya, kemecaten parah di ruas jalan tersebut diperkirakan masih akan terjadi secepatnya selama 1 tahun ke depan. Karena proyek jalan tol khusus trailer yang bisa langsung ke pelabuhan peti kemas itu diprediksi akhir tahun 2013 baru bisa rampung.

Assalamualaikum…. Tiba lah di gubuk kami yang sangat tak seberapa itu. Cium tangan dan peluk sang Ibu memang hal yang sangat dinantikan, apalagi sang Adik masih tersipu malu karena kita sangat jarang bertemu satu tahun terakhir.Ibunda & Adinda

Sabtu, 9 Maret 2013 sekitar pukul 4 sore saya bergerak lagi menuju sekretariat KMPA Patuha dan mampir ke Makalu Outdoor di bilangan Buaran untuk membeli celana pendek. Harapan bisa bertemu dengan semua anggota aktif / anggota yang masih berdomisili di Jakarta, tapi dengan kesibukan masing-masing dan juga saya yang kurang memberikan informasi ke anak-anak di Patuha sehingga hanya ada beberapa anggota yang masih stand by di sekretariat. Disana juga saya tidak/belum bertemu dengan adik-adik baru yang berjumlah 7 orang dengan 6 pria dan 1 wanita. Mungkin dikarena baru saja selesai diklat lapangan, jadi mereka masih pulang ke rumah terlalu dini. Jam 9 malam pun saya check out dari sekretariat Patuha untuk pulang ke Tanjung Priok.

Minggu, 10 Maret 2013 pukul 15.00 wib saya melanjutkan perjalan ke Bandung dengan menumpang Travel DayTrans yang akan berangkat dari poll jam 5 sore. Karena saya sudah booking dari Jum’at pagi, maka saya dapat tempat duduk di depan samping supir. Tempat yang sangat nyaman untuk kelas ekonomi, apa lagi saya menggendong daypack yang nggak kecil itu. Tujuan akhir DayTrans itu adalah jalan Dipatiukur. Tapi setelah berbincang dengan sang supir beliau pun menawarkan antar langsung ke tempat Training di jalan Setrasari Kulon V.

Setibanya di Setrasari Kulon V, saya disambut dengan ramah oleh petugas Guest House tersebut. Setelah check in saya langsung diantar oleh petugas ke kamar di lantai 2. Good dream, Bandung.

Senin, 11 Maret 2013 pukul 09.00 WIB training Microsoft SharePoint 2010 Administration dimulai. Aris adalah trainer materi tersebut untuk 5 hari kedepan. Pertanyaan pertama saya adalah kenapa kita harus menggunakan SharePoint dibandingkan tidak memilih website? Dan jawaban kang Aris pun, itu nanti akan terjawab dengan sendirinya ketika sudah selesai semua materi training.

Karena minim-nya teman di Bandung, saya hanya mampir ke Paris Van Java dan ternyata isinya sama saja dengan pusat perbelanjaan lainnya. Andai saja saya dapat informasi tempat-tempat pasar loakan yang didominsasi oleh perintilan-perintilan outdoor activity seperti yang terpaparkan di *link blog pasti setiap hari saya seruntulan ke semua tempat tersebut.

Kamis, 14 Maret 2013 saya memutuskan untuk berkunjung ke family di Garut, sekalian mencoba jalur selatan Jawa Barat. Take off dari Setrasari Kulon V pukul 15.30 WIB menggunakan taksi menuju terminal Cicaheum, kurang lebih 30 menit waktu yang dibutuhkan untuk tiba di terminal bus Cicaheum. Kondisi jalan di Bandung akan menyamai kondisi di Jakarta, macet.Suasana di dalam bus Sonny

Seperti biasa, begitu keluar dari terminal sang bus kan melanjutkan “ngetem” nya di luar terminal. Hampir 30 menit lamanya Sony Bus “ngetem” di samping terminal Cicaheum. Ooo ternyata perjalan ini melewati kampus UIN, Cibiru, Bandung dan melihat jarum jam di tangan menunjukan diangka 5. Tiba disekitaran Rancaekek pukul 17.25 WIB. Karena masih cari penumpang, maka laju sang bus pun hampir tidak pernah diatas 40 km/jam a.k.a pelan. Karena kondisi lalu lintas sangat padat sehingga pukul 18.25 pun bus yang saya tumpangi masih “mandeg” di Rancaekek. Walaupun disuguhi pegunungan yang ada disebelah kanan jalan, tapi tetap saja membuat perjalan kurang enjoy. Dan ternyata kondisi jalan yang rusak (berlubang besar) di sekitaran kawasan industry yang menyebabkan laju kendaraan tersendat.  Lepas dari jalan rusak tersebut laju bus pun dipercepat sehingga pukul 18.30 bus pun sudah masuk di wilayah Nagrek. Kondisi langit yang sudah gelap, sangat disayangkan saya tidak bisa menikmati pemandangan pegunungan Nagrek.

Terminal Bus Guntur GarutWelcome to Garut. Ya, akhirnya saya sudah tiba di terminal Guntur, Garut dan 19.20 angka di jam tangan yang sudah saya gunakan hampir 5 tahun.

Toilet menjadi tujuan pertama setelah turun dari bus. Karena hari sudah malam jadi angkutan umum pun terbatas. Hanya ada 2 rute yang masih “narik”. Saya menjadi penumpang pertama di angkot 07 jurusan terminal Guntur – Naraja yang masih “ngetem” pada malam itu. Hampir 60 menit angkot tidak beranjak dari tempat mangkalnya, maklum karena sudah cukup malam sehingga penumpang pun tidak seramai disiang hari. Padahal angkot tersebut baru mendapatkan 9 penumpang dan disepakati dari pada masih mangkal lebih baik penumpang membayar lebih Rp 2.000 dari ongkos normalnya sebesar Rp 6.000,-.

Akhirnya saya tiba di tujuan pada pukul 21.21 wib. Sebelumnya saya turun di persimpangan (pertigaan) Ciwuni dan dari sana saya dijemput menggunakan sepeda motor.Sukawening, Wanaraja

Iya, Desa Pasir Jengkol, Kecamatan Sukawening dimana kakek saya bernaung. Brrrrrr, hawa dingin menusuk kulit tubuh. Bagaimana tidak dingin, hampir kanan kiri depan belakang di kediaman kakek saya itu dikelilingi oleh pegunungan. Karena gelap sehingga saya tidak bisa menikmati pemandangan disekitar. Lama tidak bersua  dengan keluarga di Garut, kami pun ngobrol kesana kemari hinggan pukul 00.30 wib. Rumah Mang Ade

Alarm bedering pada pukul 05.00 wib. Seperti biasa, karena dingin saya hanya membasuh muka dan menggosok gigi untuk memulai agenda hari ini. Wudhu kemudian shalat subuh. Teh hangan menjadi sarapan pagi ini. Langit makin terang yang artinya saya harus segera bergegas untuk melakukan perjalan kembali menuju Bandung. Pamitan dengan seluruh cucu kakek saya yang masih berusia 5 tahunan dan tidak lupa berpoto ria walaupun kurang cahaya karena matahari belum memunculkan seluruh wujudnya.Saudara-saudari kecilku

Jalan sedikit kedepan untuk mununggu dan naik angkot jurusan Pasir Jengkol – Terminal Guntur yang akan mengantarkan saya. Tepat pukul 05.55 wib angkot pun tiba. Dan memang suasan kanan kiri sangat menakjubkan. Perkampungan dan jalan yang diapit oleh bentangan sawah yang dihiasi oleh pegunungan disekitar membuat mata sangat fresh. Padahal malam tadi saya hanya tidur kurang dari 5 jam. Ceprat-cepret suara yang keluar dari handheld dalam proses pengambilan gambar. Sekitar Wanaraja

Pegunungan sekitar Sukawening

Mentari Pagi Sukawening

Angkot Terminal Guntur - WanarajaPerjalanan dari Pasir Jengkol – Terminal Guntur ditempuh dengan waktu 45 menit. Mensiasati agar bisa cepat sampai ke Bandung saya memilih angkutan umum Elf tujuan terminal Leuwi Panjang Bandung. Karena dimensinya yang kecil sehinggan sangat mudah untuk bermanuver. Apabila naik bus Garut – Cicaheum sangat tidak “lincah” sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk tiba di Bandung. Terminal Bis Guntur

Bis Elf Garut-BandungDi depan mata terlihat dengan jelas gunung Guntur yang tersipu malu karena disinari sang matahari. Tarik napas panjang sangat sering saya lakukan disini. Iya, udara segar disini sangat nikmat untuk dihirup panjang-panjang. Gunung Guntur

Landscape Garut

Landscape Garut

Salah Satu Ikon Garut

Tanjakan Arah Nagrek

Pemandangan Sebelum NagrekDamn, Elf yang saya tumpangi mogok di Nagrek. Sudah pasti akan dioper ke Elf lain. Sehingga pukul 08.56 wib saya baru sampai di Cileunyi. Banyak penumpang yang turun dan  naik persimpangan Cileunyi ini. Lanjut masuk ke jalan tol dan saya pun turun di terminal Leuwi Panjang, jam menunjukan angka 09.30 wib.

Taksi sangat jarang disekitaran terminal Leuwi Panjang. Dan akhirnya saya tiba di hotel pukul 10.57 wib. Selesai shalat Jum’at saya kembali ke training room untuk review materi training.

Sekitar pukul 15.00 wib saya check out dari hotel. O iya, Rumah Asri Guest House memang sangat tepat untuk training dan santai. Karena suasananya sangat hening karena jauh dari keramaian. Lagi pula Guest House ini memang berada ditengah-tengah pemukiman warga sehingga tidak banyak kendaraan yang berlalulalang.

Tujuan selanjutnya adalah ke kediaman beberapa teman lama saya di Kuningan yang saat ini bekerja di sekitaran Leuwi Panjang sebelum ke stasiun Bandung. Sangat disayangkan lagi karena perjalan menuju Jakarta menggunakan kereta api pada malam hari, yang artinya pemandangan selama perjalanan tidak akan terlihat jelas oleh mata. Tapi setidaknya saya pernah menggunakan moda transportasi umum kereta api Bandung – Jakarta. KA Parahiyangan

Welcome to Jakarta..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s