Dieng, Kediengan di Dataran Tinggi


Dieng ibarat perempuan cantik yang selama ini menggoda saya. Kabutnya adalah bedak yang membuat pikiran saya melayang-layang ingin segera mencecapnya. Dinginnya adalah keakuan yang ingin saya taklukan. *sumber

Banyak cerita dari berbagai sumber tentang keindahan dan kedinginan dataran tinggi Dieng yang secara administrasi terletak pada dua kabupaten, yaitu Wonosobo dan Banjarnegara. Setelah merangkum semua informasi yang kami dapatkan, rencana operasional perjalanan (ROP). Berikut skenario kasar perjalanan kami, Jakarta – Wonosobo – Dieng – Wonosobo – Jakarta.

Dan akhirnya tanggal 21 Sepetember 2011 menjadi awal permulaan perjalanan kami ke Dieng. Karena kebetulan kami sekampus maka perjalanan pun dimulai dari bilangan Radio Dalam, Jakarta Selatan. Dengan menumpang metro mini 72 arah Lebak Bulus, kami masih bisa duduk manis di dalam kendaraan tersebut yang tentunya harus mengeluarkan uang Rp 2.000 untuk membayar jasa metro mini tersebut yang mengantarkan kami ke terminal Lebak Bulus…

 

Setibanya di terminal antar kota antar provinsi itu, tempat tujuan kami selanjutnya yaitu masjid yang terletak di sebelah selatan terminal atau lebih persisnya di samping pintu keluar terminal. Karena masjid tersebut berada di dalam terminal maka kami pun harus membayar peron terminal sebesar Rp 700 per kepala. Bersujudlah kami sebanyak 8 kali.

Tepat pukul 16.40 wib bus PO. Sinar Jaya (ekonomi) lepas landas dari terminal Lebak Bulus dan akan mendarat di terminal Mendolan, Wonosobo pada waktu 03.00 wib pada keesokan harinya. Untuk bisa menaiki bus tersebut kami harus membayar Rp 130.000 untuk dua orang.

Kamis, 22 September 2011

Selamat datang Wonosobo. Seharusnya kami turun di alun-alun kota Wonosobo, tapi karena kurangnya informasi yang kami peroleh sehingga turunlah kami di terminal Mendolan. Yang artinya harus naik ojeg dengan biaya Rp 15.000 per motor. Tidak ada kendaraan lain pada saat itu karena waktu masih menunjukan pukul 03.00 wib, padahal setelah dilalui hanya memerlukan waktu 2 menit untuk tiba di alun-alun kota.

Bus kota yang akan berangkat ke Dieng pun sudah menanti. Lagi-lagi karena penumpangnya masih sepi, pada jam 04.30 wib pun bus baru bisa lepas landas. Rupiah sebanyak 16.000 pun kami keluarkan untuk membayar ongkos bus tersebut. Sambil menikmati perjalanan tak sadar mata kami pun mulai merem-melek walaupun udara disana sangat dingin. Apalagi dari informasi yang kami peroleh, selama dalam perjalanan dari Wonosobo ke dataran tinggi Dieng sepasang mata kita akan dimanjakan oleh pemandangan yang sangat menakjubkan. Gunung Sundoro – Sumbing pun terlihat jelas ketika langit perlahan mulai memancarkan sinarnya.

Kami turun persis di depan hotel atau lebih tepatnya kami sebut penginapan Ibu Jono yang cukup terkenal di kawasan Dieng. Jam tangan menunjukan waktu sudah menginjak 15.15 wib. Penginapan Ibu Jono memang sangat mudah untuk dicapai karena lokasinya sangat strategis yang terlihat jelas begitu kita turun dari bus.

Disekitaran datarang tinggi memang banyak terdapat penginapan, tapi karena banyak wisatawan yang bermalam di penginapan Ibu Jono, maka tanpa ragu kami langsung memasuki “Ibu Jono”. Kami dijelaskan tentang kamar-kamar yang ada oleh sang resepsionis, ada yang Rp 75.000 / malam (kamar mandi diluar) dan kamar seharga Rp 150.000 / malam (kamar mandi di dalam). Tentunya kami pilih yang paling sedikit nilai rupiahnya.

Sampai jam 09.00 wib kami meluruskan badan sambil memejamkan mata. Air teh hangat pun disajikan oleh pelayan Ibu Jono. Selama 20 menit mas Duri menjelaskan lokasi-lokasi wisata yang wajib dikunjungi dan tentunya setiap tamu Ibu Jono akan diberikan peta / denah lokasi wisata yang tersebar di dataran tinggi Dieng.

Sepasang kaki kami arahkan ke candi Arjuna, Gatot Kaca, Bima dan istirahat sejenak sambil makan siomay yang dijajakan oleh pedagang setempat. Karena hari ini bukan musim liburan alias week day, kondisi pengunjung pun terbilang sepi. Hanya ada beberapa wisatawan lokal maupun mancanegara yang mengunjungi dataran tinggi Dieng.

Kawah Sikadang menjadi target kami selanjutnya. Mengunjungi suatu tempat itu memang cukup senang bisa berfoto ria dengan objek-objek yang ada. Setelah cukup menikmati suasana di kawah Sikidang, kami melanjutkan perjalan ke danau Warna dan goa semar dengan berjalan kaki.

Hampir setiap tempat memiliki ciri khas masing-masing baik itu berupa makanan atau kerajinan tangan. Tentu saja mungkin kamu sudah tidak asing lagi dengan makanan yang bernama mie ongklok. Ya, mie ongklok itu terkenal makanan khas Wonosobo. Setelah cukup lelah menikmati danau Warna, mata kami langsung tertuju pada warung yang menjajakan mie ongklok tersebut. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 15.15 wib yang artinya kami harus kembali ke Ibu Jono. Cukup berjalan selama 15 menit untuk mendarat kembali di Ibu Jono.

Cukup untuk hari ini. Untuk makan malam kami pergi ke depan Ibu Jono yang terdapat para penjaja makanan. Dieng itu memang terkenal juga dengan sarung, karena hampir setiap masyarakat setempat mengenakan sarung sebagai pelindung dari rasa dingin. Suhu pada saat itu memang hampir 5 derajat celcius. Selesai makan nasi goreng tidur malam pun jadi agenda kami selanjutnya.

Jum’at, 23 September 2011

Setelah melaksanakan shalat jum’at di masjid Baiturahman Dieng yang baru dibangun itu, kami segera bergegas untuk mengunjungi pasar Batur yang berada di wilayah Banjarnegara. Kami menggunakan jasa bus umum untuk mengantarkan kami kesana.

Perjalanan Dieng ke pasar Batur memang sangat mengesankan. Kanan maupun kiri selama perjalanan mata akan kembali dimanjakan dengan pemandangan bukit-bukit yang hampir semuanya tertanam sayuran jenis kentang. Kurang lebih jam 14.00 wib kami tiba di pasar Batur, dan bakso sapi pun menjadi menu makan siang kali ini. Tapi yang jadi pertanyaan kami, ini sebenarnya bakso sapi atau lontong sapi sih? Kok lebih banyak lontong ketimbang baksonya. Hiks hiks hiks… Kami juga melahap beberapa tempe gembol yang terkenal juga makanan khas setempat.

Empat puluh menit kami habiskan waktu untuk menikmati suasana pasar Batur. Kembali kami menghampiri bus yang mengarah ke Wonosobo. Menurut peta / denah lokasi wisata yang kami terima, kamu harus turun di Pesurenan karena kami akan mengunjungi kawah Sileri. Namun begitu kami meminta para penjaja jasa antar (ojeg), harganya tidak cocok dengan kantong kami. Bayangkan, mereka meminta uang pengganti mengantar sebesar Rp 20.000 per motor. Ternyata mereka gak tahu bahwa kami itu wisatawan miskin.

Kami memutuskan untuk pindah haluan. Ya, target yang paling dekat dengan Pesurenan adalah Mendada Lake. Untuk sampai disana kami harus menggunakan jasa bus dan turun di mendada atau karang tengah. Tiga puluh menit kami berjalan dari gapura mendada sampai lokasi mendada lake. Tidak ada petugas penjaga loket (mungkin karena week day) jadi kami dengan gratis dapat menikmati panorama mendada lake.

Setelah bertanya pada penduduk setempat mengenai bagaimana caranya agar kami bisa berkunjung ke kawah Sileri dengan pengeluaran rupiah yang tidak banyak, akhirnya kami kembali ke gapura mendada untuk kembali menumpang bus arah Wonosobo dan turun di persimpangan kawah Sileri. Banyak orang yang menawarkan untuk menggunakan jasa ojegnya, tapi kami besikukuh untuk selalu berjalan kaki untuk mencapat obyek-obyek wisata yang tidak terlalu jauh.

Sekitar 30 menit kami habiskan untuk bisa mencapai kawah Sileri. Loket disini pun tidak berpenjaga, jadi gratis lagi dah (sik asyik). Karena sudah jam 16.30 wib suasana disini pun sangat sepi dari wisatawan. Sudah nak, Ibu Jono sudah menantimu di penginapan.

Istilah saya Dieng adalah sangat mendiengkan. Energi panas buminya dimanfaatkan sebagai energi yang dapat dikonversi menjadi sengatan listrik dan tanah yang suburnya menjadi lahan yang ekonomis untuk ditanami kentang.

Sabtu, 24 September 2011

Sampai jumpa Ibu Jono. Kami meninggalkan Ibu Jono pada jam 10.00 wib karena bus PO. Sinar Jaya yang akan mengantarkan kami ke Ibu Kota akan berangkat pada pukul 16.00 wib. Untuk memaksimalkan perjalanan ini, kami sedikit berkeliling wilayah perkotaan Wonosobo. Makan bakso, menikmati rindangnya pohon di alun-alun menjadi aktivitas kami sambil menanti waktu keberangkatan kami ke Jakarta.

Di alun-alun memang sangat ramai dengan berbagai aktivitas masyarakat sekitar, ada yang bersepada, main bola, basket, sekedar bersua dengan teman dan hal-hal lainnya yang dapat dikerjakan di ruangan terbuka yang hijau itu. Setelah mendekati pukul 16.00 wib kami segera bergerak mengarah ke terminal Mendolan. Kapan lagi ya kami bisa menikmati Wonosobo dan sekitarnya? Menabunglah wahai anak muda.

Alhamdulillah kami tiba di terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur pada pukul 04.00 wib keesokan harinya. Good trip man…

Biaya perjalanan “Kediengan” Dieng
KEBUTUHAN JUMLAH HARGA TOTAL KETERANGAN
Radio Dalam – Lebak Bulus 2 2,000 4,000 Meto Mini 72
Lebak Bulus – Mendolan (Wonosobo) 2 65,000 135,000 PO. Sinar Jaya (ekonomi)
Mendolan – Alun alun 2 15,000 30,000 Ojeg Motor
Alun alun – Dieng 2 8,000 16,000 Mini bus arah Pasar Batur
Ibu Jono 2 75,000 150,000 Penginapan ekonomi
Candi Arjuna 2 5,000 10,000 Retribusi obyek wisata
Kawah Sikidang 2 10,000 20,000 Retribusi obyek wisata
Telaga Warna 2 5,000 10,000 Retribusi obyek wisata
Mie Ongklok dan sate 2 10,000 20,000 Depan Telaga Warna
Siomay 2 6,000 12,000 Di pintu masuk candi arjuna
Nasi Goreng dan the manis 2 9,000 18,000 Depan Ibu Jono
Dieng – Pasar Batur 2 4,000 8,000 Mini Bus arah Pasar Batur
Bakso Sapi 2 5,500 11,000 Pasar Batur
Air mineral 1 2,000 2,000 Pasar Batur
Pasar Batur – Pesurenan 2 2,000 4,000 Mini Bus arah Wonosobo
Pesurenan – Mendala 2 2,000 4,000 Mini Bus arah Wonosobo
Mendala – Petigaan Silire 2 2,000 4,000 Mini Bus arah Wonosobo
Pertigaan Silire – Ibu Jono 2 2,000 4,000 Mini Bus arah Wonosobo
Es krim 2 2,500 5,000 Warung samping Ibu Jono
Air mineral 1 5,000 5,000 Warung samping Ibu Jono
Ibu Jono/Dieng – Alun alun Wonosobo 2 8,000 16,000 Mini Bus arah Wonosobo
Baksi Sapi 2 5,500 11,000 Pasar Kota
Mie Ayam 1 5,000 5,000 Alun alun Wonosobo
Alun alun – Mendolan 2 1,000 2,000 Mini Bus arah Mendolan
Gorengan 1 5,000 5,000 Terminal Mendolan
Toilet 3 1,000 3,000 Terminal Mendolan
Mendolan – Kampung Rambutan (jkt) 2 65,000 130,000 PO. Sinar Jaya (ekonomi)
Kampung Rambutan – Barito 2 2,500 5,000 Meto Mini 76
TOTAL PENGELUARAN 649,000

Advertisements

3 thoughts on “Dieng, Kediengan di Dataran Tinggi

    • Noonacute: Terimakasih sudah mempir ke blog yang masih sederhana ini. Mudah-mudahan informasinya bermanfaat. Untuk tempat lain belum sempat saya posting, tapi itu juga cuma beberapa tempat saya sempat kunjungi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s