Menggapai Sejati (Hari Keenam)


Rabu, 7 September 2011

00.00 – 06.01 WIB

Selamat datang puncak sejati. Thermometer mununjukan angka 9 derajat celcius, yang artinya sangat dingin cuaca disini. Apalagi ditambah musim kemarau yang sedang berlangsung sehingga angin-angin liar yang bertiup kencang berterbangan tak beraturan (anging kok terbang yak? Hihihi). Tepat pukul 05.00 wib kami bergegas bangung untuk menyiapkan santapan pagi dan bersembah kepadaNya. Dan pada pukul 06.01 wib kami pun sudah siap untuk summit attack.

06.01 – 11.57 WIB

Cukup 11 menit perjalanan, puncak bendera pun kami singgahi. Dan memang benar apa yang dibilang konon itu, begitu melihat kondisi medan summit attack yang sangat jelas terlihat dari puncak bendera, saya bertanya pada diri sendiri. Apakah bisa saya dan tim tiba di puncak sejati? Mental, emosi, kerja sama, fisik, ketelitian pun makin diuji. Apalagi setelah puncak bendera ada yang namanya jembatan sirotolmustakim. Memang sesuai analoginya, kondisi kanan dan kiri pada jembatan sirotolmustakim jurang pun menganga dengan sudut kemiringan antara 75 – 90 derajat. Subhanallah…

Tepat pukul 06.32 wib kami pun dihadapi dengan medan scrambling setelah melewati jembatan sirotolmustakim. Disini alat pemajatan mulai digunakan, setidaknya butuh 3 runner, tali karmantel. Mekanisme melalui jalur ini sama saja dengan pemanjatan di tebing maupun di papan panjat. Pemanjat di belay oleh belayer dan belayer di back up oleh tambatan yang ada. Tiga puluh sembilan menit waktu yang kami butuhkan untuk melewati medan srambling ini.

Kami tiba di bawah puncak 17 pada pukul 07.24 wib. Terdapat dua jalur untuk menggapai puncak 17. Pertama langsung pada muka tebingnya dan kedua melipir ke arah timur. Medan ini merupakan medan yang tersulit yang harus dilalui. Butuh mental, kesigapan, dan ketepatan dalam memilih rute pemanjatan. Sebenarnya material pada tebing puncak 17 lebih didominasi oleh pasir, sehingga sangat mudah longsor ketika objek yang kita jadikan tumpuan itu digunakan.

Karena pergantian leader dan pertimbangan pemilihan jalur, butuh 120 menit untuk orang pertama menggapai puncak 17. Sang leader Cak Ewok pun tiba disusul oleh saya sendiri, Ndon dan Kibul pun tiba di puncak 17 pada pukul 09.04 wib, sehingga dibutuhkan waktu sebanyak 180 menit untuk pemanjatan dan menggapai puncak 17.

Untuk menuruni puncak 17 ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Disana kamu membuat safety line menggunakan beberapa webing untuk membantu penurunan. Masih di tebing puncak 17, medan yang sangat berat pun kami temui kembali. Kali ini kami harus climb down dengan medan yang sangat curam (kira-kira mencapai 70 derajat). Seratus dua menit pun kami habiskan untuk penurunan puncak 17.

Rapeling pun menjadi tantangan selanjutnya. Kedalaman tebing sekitar 25 meter lah. Main anchor dan back up pun kami tambatkan terhitung pukul 10.35 wib dan 20 menit adalah waktu yang sangat efektif untuk 4 kali (orang) rapeling. Tali yang terpasang kami tinggalkan dan kami selimuti dan ikatkan pada batu karena sengatan matahari cukup panas. Oh iya, pastikan bahwa tali tidak akan bergerak kemana-mana. Karena sangat berbahaya apabila tali tidak berada di posisi pemanjatan, yang artinya juga akan menambah pekerjaan untuk menggapai tali tersebut. Padahal posisi yang kita ikat merupakan jalur aman untuk pemanjatan.

Setelah pendakian dengan sudut kemiringan hampir 50 derajat selama 86 menit, akhirnya kami pun tiba di terowongan samping puncak tusuk gigi. Kami istirahat sejenak dibawah lindungan batu-batu yang membebaskan kami langsung dengan sinar matahari. Sambil berkacamata ria tentunya, kami menikmati perbekalan logistik yang ada, khususnya air mineral.

Tepat pada pukul 11.57 wib kami tiba di puncak sejati. Subhanallah, saya ucapkan berkali-kali. Tidak banyak air mata yang saya keluarkan setelah melalui dan menikmati perjalanan ini. Sang Merah Putih yang berkibar di tiang puncak sejati pun langsung kami tukar dengan Merah Putih yang kami bawa. Berkumandanglah Indonesia Raya yang semakin membuat terharu.

Di timur sana merupakan puncak dari pendakian Gunung Raung jalur Sumber Wringin, Bondowoso. Dan katanya tepat disebelah tenggara merupakan summit dari pendakian jalur Glenmore dan Steil. Hanya sekitar 31 menit kami menikmati puncak sejati sebelum melanjutkan kembali ke perjalanan ke Pos IV.

12.28 – 24.00 WIB

Pukul 14.05 wib kami sudah sampai pada titik pemanjatan pertama. Ternyata lama juga pergerakan kami. Waktu terus berpacu dan kondisi air mineral semakin menipis. Tetap dengan penuh kesabaran dan hat-hati, akhirnya kami tiba di puncak 17 sekitar pukul 16.00 wib. Langit semakin gelap yang artinya semakin menguji mental kami. Puji syukur kami ucapkan karena kami telah tiba di Pos IV dengan selamat, sedangkan jam tangan menunjukan ke angka 18.54 wib.

Semua peralatan kembali kami check list untuk memastikan tidak ada alat yang tertinggal. Ternyata kami kehabisan stok air mineral. Air yang tersisa hanya sekitar 300 ml, dan kami masih berada di pos IV yang artinya air tersebut harus cukup sampai di Pos III.

Dalam keadaan tenggorokan kering dan angin bertiup kencang memang sangat tidak enak untuk beristirahat. Jangankan mau makan, menelan air ludah sendiri aja kurang nyaman. Malam ini coba kami lalui dengan rasa bersyukur karena masih bisa diberi kesempatan untuk menikmati sang ciptaanNya. Selamat malam dan sampai jumpa kembali Puncak Sejati….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s