Manual Setting Paging in GridView

Mengemas data dari hasil pencarian harus bersifat informatif. Walaupun data yang dihasilkan sangat banyak tapi kita selaku developer harus bisa membuat user dengan mudah memahaminya. Okay mari kota coba langsung ke topik utama yaitu bagaimana membuat fungsi paging pada gridview.

Setelah mengaktifkan allow paging menjadi true pada jendela properties gridview, silahkan tambahkan kode dibawah ini pada code behind form kamu. Disini saya menggunakan bahasa vb.net.

</p>
Protected Sub GridView1_PageIndexChanging(ByVal sender As Object, ByVal e As System.Web.UI.WebControls.GridViewPageEventArgs) Handles GridView1.PageIndexChanging
 If cbsearch.Checked = True Then
 GridView1.PageIndex = e.NewPageIndex
 GridView1.DataSource = SqlDataSource1
 GridView1.DataBind()
 ElseIf cbsearch.Checked = False Then
 GridView1.PageIndex = e.NewPageIndex
 GridView1.DataSource = SqlDataSource2
 GridView1.DataBind()
 End If
 End Sub
<p align="JUSTIFY">
Advertisements

Dieng, Kediengan di Dataran Tinggi

Dieng ibarat perempuan cantik yang selama ini menggoda saya. Kabutnya adalah bedak yang membuat pikiran saya melayang-layang ingin segera mencecapnya. Dinginnya adalah keakuan yang ingin saya taklukan. *sumber

Banyak cerita dari berbagai sumber tentang keindahan dan kedinginan dataran tinggi Dieng yang secara administrasi terletak pada dua kabupaten, yaitu Wonosobo dan Banjarnegara. Setelah merangkum semua informasi yang kami dapatkan, rencana operasional perjalanan (ROP). Berikut skenario kasar perjalanan kami, Jakarta – Wonosobo – Dieng – Wonosobo – Jakarta.

Dan akhirnya tanggal 21 Sepetember 2011 menjadi awal permulaan perjalanan kami ke Dieng. Karena kebetulan kami sekampus maka perjalanan pun dimulai dari bilangan Radio Dalam, Jakarta Selatan. Dengan menumpang metro mini 72 arah Lebak Bulus, kami masih bisa duduk manis di dalam kendaraan tersebut yang tentunya harus mengeluarkan uang Rp 2.000 untuk membayar jasa metro mini tersebut yang mengantarkan kami ke terminal Lebak Bulus… Continue reading

Menggapai Sejati

Salam Nusantara…

Dalam catatan perjalanan kali ini yang cukup panjang, tulisan ini saya pisahkan per masing-masing hari semenjak dimulainya perjalanan. Yuk mari membaca dan menyimak.

Gunung Raung (3332 mdpl) adalah sebuah gunung yang besar dan unik, yang berbeda dari ciri-ciri gunung pada umumnya dan merupakan gunung berapi aktif tertinggi kedua di Pulau Jawa yang sampai saat ini status gunung tersebut pun masih waspada. Keunikan dari gunung Raung adalah kalderanya yang berbentuk elips dengan kedalaman sekitar 500 meter dan di dasar kaldera terdapat “kubah” yang sering menyemburkan asap bahkan api. Secara administratif gunung Raung berada diantara dua kabupaten, yaitu kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso.

Gunung Raung mempunyai 4 jalur pendakian dan masing-masing jalur mempunyai puncak (titik tertinggi) tersendiri. Jalur Sumber Wringin, Bondowoso merupakan jalur termudah untuk mencapai puncak gunung. Titik tertinggi pada jalur ini ada disisi timur kaldera gunung Raung. Sedangkan jalur Stail, Glenmore dan Kalibaru berada di wilayah Banyuwangi dan masing-masing jalur ini mempunyai titik tertinggi yang saling berbeda (hanya beda beberapa punggungan).

Seperti objek-objek wisata petualangan yang lainnya, masing-masing jalur pendakian gunung Raung pun mempunyai tantangan khusus yang membuat para petualang untuk berkunjung ke gunung tersebut. Jalur yang paling sulit untuk dilalui yaitu jalur Kalibaru. Seperti ketiga jalur lainnya, pendakian gunung Raung lewat jalur Kalibaru pun tidak akan menemukan sumber air selama pendakian. Sumber air terakhir pada jalur Kalibaru ini terdapat di Pos I, dua jam perjalanan dari desa terakhir. Dan menurut beberapa kalangan, pendakian gunung Raung lewat jalur Kalibaru merupakan jalur terekstrim diantara gunung-gunung yang ada di Pulau Jawa dan kedua paling ekstrim jalur pendakian gunung di Indonesia. Continue reading

Menggapai Sejati (Hari Ketujuh & delapan)

Kamis, 8 September 2011

Bangun tidur jam 05.30 wib dan langsung packing untuk melanjutkan perjalanan turun. Dengan kondisi stok air mineral yang tersisa hanya 300 ml, maka target perjalanan hari ini pun harus tiba di pos I sebelum langit gelap. Beruntung dalam perjalan kami menemukan tandon air di pertengahan jalur antara pos III dengan pos IV dan kami juga menimbun 1 liter air di pos III. Kami harus tiba di pos III dengan segera, karena dikhawatirkan air timbunan kami diambil oleh pendaki lain.

Sebelum tiba di pos III, kami bertemu dengan rombongan pendaki dari Kalideres, Jakarta. Hanya bertegur sama dengan mereka kami pun segera melanjutkan perjalanan menuju pos III. Ternyata air yang kami timbun sudah tiada, kemungkinan besar diambil oleh tim Kalideres. Putus asa pun mulai meninggahi kami, karena harapan air kami satu-satunya telah tiada.

Sambil beristirahat cukup lama di pos III, kami pun segera menyisir semak-semak di pos III dengan harapan masih ada stok air minum yang tertimbun. Karena kebiasaan para pendaki Gunung Raung yang melewati jalur Kalibaru pasti menimbun air mineral, walaupun hanya sebotol minum. Dan puji syukur kami menemukan 1 liter botol yang berisi air. Warna air sudah agak kehijauan yang sepertinya sudah lama tertimbun. Slayer pun kami gunakan untuk menyaring air tersebut agar sedikit bersih dan aman untuk diminum.

Setelah menenggak beberapa tetes air kami langsung bergegas untuk segera melanjutkan perjalanan. Air tersebut kami atur sedemikian rupa agar cukup sampai pos I. Dengan jalan agak sempoyongan karena kekurangan energi akhirnya kami tiba di pos I kira-kira pada pukul 16.00 wib. Continue reading

Menggapai Sejati (Hari Keenam)

Rabu, 7 September 2011

00.00 – 06.01 WIB

Selamat datang puncak sejati. Thermometer mununjukan angka 9 derajat celcius, yang artinya sangat dingin cuaca disini. Apalagi ditambah musim kemarau yang sedang berlangsung sehingga angin-angin liar yang bertiup kencang berterbangan tak beraturan (anging kok terbang yak? Hihihi). Tepat pukul 05.00 wib kami bergegas bangung untuk menyiapkan santapan pagi dan bersembah kepadaNya. Dan pada pukul 06.01 wib kami pun sudah siap untuk summit attack.

06.01 – 11.57 WIB

Cukup 11 menit perjalanan, puncak bendera pun kami singgahi. Dan memang benar apa yang dibilang konon itu, begitu melihat kondisi medan summit attack yang sangat jelas terlihat dari puncak bendera, saya bertanya pada diri sendiri. Apakah bisa saya dan tim tiba di puncak sejati? Mental, emosi, kerja sama, fisik, ketelitian pun makin diuji. Apalagi setelah puncak bendera ada yang namanya jembatan sirotolmustakim. Memang sesuai analoginya, kondisi kanan dan kiri pada jembatan sirotolmustakim jurang pun menganga dengan sudut kemiringan antara 75 – 90 derajat. Subhanallah…

Tepat pukul 06.32 wib kami pun dihadapi dengan medan scrambling setelah melewati jembatan sirotolmustakim. Disini alat pemajatan mulai digunakan, setidaknya butuh 3 runner, tali karmantel. Mekanisme melalui jalur ini sama saja dengan pemanjatan di tebing maupun di papan panjat. Pemanjat di belay oleh belayer dan belayer di back up oleh tambatan yang ada. Tiga puluh sembilan menit waktu yang kami butuhkan untuk melewati medan srambling ini. Continue reading

Menggapai Sejati (Hari Kelima)

Selasa, 6 September 2011

00.00-07.45 WIB

Bangun jam 5 pagi untuk shalat subuh, memasak santapan pagi, packing dan sedikit streching. Sebanyak 1.5 liter air pun kami timbun di sekitaran Pos III untuk meringankan beban dan mengantisipasi jika kehabisan air mineral. Target hari ini bisa mencapai Pos IV. Menurut string tag yang terpasang di pohon, pos III berada pada ketinggian 2115 mdpl.

07.45-12.07 WIB

Konon ceritanya perjalanan dari Pos III menuju Pos IV itu makin menambah beban. Selain beban carrier, emosi karena kondisi jalur yang penuh tumbuhan berduri, mental pun harus bisa dikendalikan. Karena beberapa titik jalur pendakian hampir berbatasan langsung dengan jurang-jurang yang menganga. Continue reading

Menggapai Sejati (Hari Keempat)

Senin, 5 September 2011

00.00-07.25 WIB

Pukul 05.00 wib kami pun bangun untuk menyiapkan makan pagi. Setelah melewati beberapa proses masak memasak, tepat pukul 06.37 wib pun tim sudah bisa menghancurkan santapan pagi. Selesai makan tentu saja selanjutnya membersihkan peralatan makan dan packing. Seperti biasa sebelum melanjutkan aktivitas harian, kami berdoa dan meneriakan yel sebagai penyemangat.

07.25-11.29 WIB

Target hari ini adalah tiba di Pos III. Pepohonan dan tumbuhan berduri pun semakin lebat dan tidak sedikit menghalangi jalur pendakian. Apa lagi kondisi medan yang semakin menanjak tentu saja diperlukan kesabaran dalam mengontrol emosi (karena tersangkut duri). Kami beristirahat sejenak di camp 3 sebelum melakukan istirahat makan siang di camp 4. Puji syukur saya ucapkan karena kami sudah mencapai camp 4 dan waktu pun menujukan pukul 11.29 WIB. Continue reading